Waters62navarro's website

Our website

26
Ja
Arti Aqiqah Menurut Agama Islam
26.01.2017 05:50

Dari segi bahasa ‘Aqiqah artinya: mengabung. Asalnya disebut ‘Aqiqah, karena dipotongnya lembut binatang secara penyembelihan ini. Ada yang mengatakan bahwa aqiqah adalah nama untuk hewan yang disembelih, dinamakan demikian sebab lehernya dipotong Ada agaknya yang menyiarkan bahwa ‘aqiqah itu asalnya ialah: Sabut yang ada pada kepala si momongan ketika ia keluar dari rahim permulaan, rambut berikut disebut ‘aqiqah, karena ia mesti dicukur.

Aqiqah ialah penyembelihan domba/kambing untuk balita yang dilahirkan pada hari ke tujuh, 14, / 21. Jumlahnya 2 upaya untuk bocah laki-laki serta 1 termuda untuk balita perempuan.

Dalil-dalil Pelaksanaan

Mulai Samurah bin Jundab dia berkata: Nabi bersabda: “Semua anak balita tergadaikan secara aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi sebutan dan dicukur rambutnya. ” [HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]

Atas Aisyah dia berkata: Nabi bersabda: “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan 2 kambing yang serupa dan momongan perempuan wahid kambing. ” [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Anak-anak ini tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih hewan untuknya dalam hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama. ” [HR Ahmad]

Dari Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia mengatakan: Rasululloh bertitah: “Aqiqah dilaksanakan karena kelahiran bayi, dipastikan sembelihlah fauna dan hilangkanlah semua sindiran darinya. ” [Riwayat Bukhari]

Daripada ‘Amr bin Syu’aib mulai ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kelahiran bayi oleh karena itu hendaklah ia lakukan untuk laki-laki 2 kambing yang sama dan untuk perempuan tunggal kambing. ” [HR Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad]

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW sudah ber ‘aqiqah untuk Patut dan Husain pada hari ke-7 daripada kelahirannya, beliau memberi seri dan menitahkan supaya dihilangkan kotoran atas kepalanya (dicukur)”. [HR. Hakim, dalam AI-Mustadrak juz 4, sesuatu. 264]

Tanggapan: Hasan dan Husain ialah cucu Rasulullah SAW.

Mulai Fatimah binti Muhammad saat melahirkan Lembut, dia mengatakan: Rasulullah berfirman: “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak kepada orang2 miskin seberat timbangan rambutnya. ” [HR Ahmad, Thabrani, serta al-Baihaqi]

Atas Abu Buraidah r. a.: Aqiqah itu disembelih pada hari ketujuh, atau keempat belas, / kedua puluh satunya. (HR Baihaqi & Thabrani).

Pedoman Aqiqah Bujang adalah sunnah (muakkad) serasi pendapat Imam Malik, penduduk Madinah, Kepala Syafi'i dan sahabat-sahabatnya, Kepala Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan paling banyak ulama ahli fiqih (fuqaha).

Dasar yang dipakai sebab kalangan Syafii dan Hambali dengan mengatakannya sebagai sesuatu yang sunnah muakkadah ialah hadist Rasul SAW. Yang berbunyi, “Anak tergadai dengan aqiqahnya. Disembelihkan untuknya saat hari ketujuh (dari kelahirannya)”. (HR al-Tirmidzi, Hasan Shahih)

“Bersama anak laki-laki ada aqiqah, maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan dan bersihkan darinya kotoran (Maksudnya bercukur rambutnya). ” (HR: Ahmad, Al Bukhari dan Ashhabus Sunan)

Sidang: “maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan” adalah perintah, namun bukan bersifat tetap, karena siap sabdanya yang memalingkan dari kewajiban ialah: “Barangsiapa diantara kalian siap yang ingin menyembelihkan bagi anak-nya, dipastikan silakan lakukan. ” (HR: Ahmad, Abu Dawud serta An Nasai dengan sanad yang hasan).

Perkataan: “ingin menyembelihkan,.. ” merupakan saksi dusta yang menjungkalkan perintah yang pada dasarnya wajib menjadi sunnah.

Imam Malik berkata: Aqiqah itu diantaranya layaknya nusuk (sembeliah kompensasi larangan haji) dan udhhiyah (kurban), tidak boleh di aqiqah tersebut hewan yang picak, mersik, patah urat, dan perih. Imam Asy-Syafi’iy berkata: & harus dihindari dalam hewan aqiqah ini cacat-cacat yang tidak diperbolehkan pada qurban.

Buraidah berkata: Dahulu kami di masa jahiliyah apabila khilaf seorang diantara kami mempunyai anak, ia menyembelih kambing dan menconteng kepalanya dengan darah kambing itu. Jadi setelah Tuhan mendatangkan Agama islam, kami menjagal kambing, menyikat (menggundul) penyelenggara si bayi dan melumurinya dengan minyak wangi. [HR. Debu Dawud bab 3, sesuatu. 107]

Atas ‘Aisyah, ia berkata, “Dahulu orang-orang saat masa jahiliyah apabila itu ber’aqiqah untuk seorang momongan, mereka menconteng kapas secara darah ‘aqiqah, lalu begitu mencukur rambut si budak mereka melumurkan pada kepalanya”. Maka Nabi SAW bertitah, “Gantilah kebiasaan itu secara minyak wangi”.[HR. Ibnu Hibban beserta tartib Rumpun Balban surah 12, sesuatu. 124]

Pelaksanaan aqiqah pikir kesepakatan karet ulama adalah hari ketujuh dari kelahiran. Hal itu berdasarkan hadits Samirah dalam mana Nabi SAW menitahkan, “Seorang bujang terikat secara aqiqahnya. Ia disembelihkan aqiqah pada hari ketujuh dan diberi nama”. (HR. al-Tirmidzi).

Namun demikian, apabila terlewat dan gak bisa dijalankan pada hari ketujuh, ia bisa dijalankan pada hari ke-14. Dan jika tidak pula, maka di hari ke-21 atau saat saja ia mampu. Imam Malik mengatakan: Pada dzohirnya bahwa keterikatannya pada hari ke tujuh (tujuh) untuk dasar permintaan, maka takut-takut menyembelih dalam hari di 4 (empat) ke 8 (delapan), di 10 (sepuluh) atau setelahnya Aqiqah ini telah cukup. Karena prinsip ajaran Islam adalah mempermudah bukan menyusahkan sebagaimana petuah Allah SWT: “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kegaduhan bagimu”. (QS. Al Baqarah: 185)

Kegiatan aqiqah disunnahkan pada hari yang ketujuh dari kemunculan, ini berlandaskan sabda Nabi SAW, yang artinya: “Setiap anak tersebut tergadai dengan hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dan dia dicukur, dan diberi sebutan. ” (HR: Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, & dishahihkan sebab At Tirmidzi)

Dan jika tidak siap melaksanakannya pada hari ketujuh, maka bisa dilaksanakan pada hari di empat belas, dan kalau tidak sanggup, maka saat hari ke dua puluh satu, ini berdasarkan hadits Abdullah Putri Buraidah daripada ayahnya dari Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, sira berkata yang artinya: “Hewan aqiqah ini disembelih saat hari ketujuh, ke 4 belas, dan ke 2 puluh tunggal. ” (Hadits hasan tambo Al Baihaqiy)

Namun setelah tiga ahad masih bukan mampu jadi kapan sekadar pelaksanaannya dalam kala telah mampu, sebab pelaksanaan di dalam hari-hari ke tujuh, ke empat belas dan di dua persepuluhan satu merupakan sifatnya sunnah dan paling utama tak wajib. & boleh pula melaksanakannya pra hari ke tujuh.

http://dapoeraqiqah.com/catering-aqiqah-bandung/ Bocah yang musnah dunia sebelum hari ketujuh disunnahkan juga untuk disembelihkan aqiqahnya, bahkan meskipun bayi yang miskram[cak] dengan ukuran sudah berusia empat kamar di dalam kandungan ibunya.

Aqiqah adalah syari’at yang ditekan kepada memfilter si balita. Namun jika seseorang yang belum di sembelihkan fauna aqiqah sambil orang tuanya hingga ia besar, oleh sebab itu dia sanggup menyembelih aqiqah dari dirinya sendiri, Syaikh Shalih Al Fauzan mengatakan: Dan kalau tidak diaqiqahi oleh ayahnya kemudian dia mengaqiqahi dirinya sendiri oleh sebab itu hal ini tidak apa-apa menurut aku, wallahu ‘Alam.

Hukum Aqiqah Setelah Dewasa/Berkeluarga

Pada dasarnya aqiqah disyariatkan untuk dilaksanakan saat hari ketujuh dari kelahiran. Jika tidak bisa, jadi pada hari keempat belas. Dan jika gak bisa juga, maka saat hari ke-2 puluh satu. Selain itu, pelaksanaan aqiqah menjadi beban ayah.

Akan tetapi demikian, apabila ternyata tatkala kecil ia belum diaqiqahi, ia bisa melakukan aqiqah sendiri pada saat mendalam. Satu pada al-Maimuni bertanya kepada Imam Ahmad, “ada orang yang belum diaqiqahi apakah saat besar ia boleh mengaqiqahi dirinya seorang diri? ” Imam Ahmad menjawab, “Menurutku, bahwa ia belum diaqiqahi saat kecil, oleh sebab itu lebih indah melakukannya seorang diri saat kuat. Aku tidak menganggapnya makruh”.

Para saudara Imam Syafi’i juga mereken demikian. Dari sisi mereka, anak-anak yang sudah dewasa yang belum diaqiqahi oleh orang tuanya, disarankan baginya untuk melakukan aqiqah sendiri.

Nominal Hewan

Banyak hewan aqiqah minimal adalah satu ekor baik untuk laki-laki / pun untuk perempuan, sebagaimana perkataan Pelerai demam Abbas ra: “Sesungguh-nya Rasul SAW mengaqiqahi Hasan & Husain tunggal domba tunggal domba. ” (Hadits shahih riwayat Bubuk Dawud & Ibnu Al Jarud)

Kalian harus pulih bahwa Laksmi dan Husain adalah bujang kembar. Menjadi pada tunggal kelahiran tersebut disembelih dua ekor kambing.

Namun yang lebih yang utama adalah 2 ekor untuk anak laki-laki dan 1 sudut untuk anak perempuan menurut hadits-hadits dibawah ini:

Ummu Kurz Al Ka’biyyah berkata, yang artinya: “Nabi SAW menyabdakan agar dsembelihkan aqiqah daripada anak laki-laki 2 ekor sedia dan atas anak cewek satu upaya. ” (Hadits sanadnya shahih riwayat Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan)

Dari Aisyah ra mengatakan, yang mempunyai: “Nabi SAW memerintahkan meronce agar disembelihkan aqiqah atas anak laki-laki dua ekor sedia yang cocok dan daripada anak dara satu sudut. ” (Shahih riwayat At Tirmidzi)

Hal-hal yang disyariatkan sehubungan dengan ‘aqiqah

Yang berhubungan beserta sang keturunan

1. Disunnatkan untuk melepaskan nama dan mencukur serabut (menggundul) di dalam hari ke-7 sejak hari iahirnya. Misalnya lahir saat hari Esa, ‘aqiqahnya mati pada hari Sabtu.

dua. Bagi bani disunnatkan ber’aqiqah dengan dua ekor kibas sedang untuk anak cewek 1 ekor.

3. ‘Aqiqah ini paling utama dibebankan mendapatkan orang tua si anak, namun boleh pun dilakukan oleh keluarga yang lain (kakek serta sebagainya).

4. Aqiqah itu hukumnya sunnah.

Daging Aqiqah Lebih Elok Mentah Atau Dimasak

Disarankan agar dagingnya diberikan dalam kondisi sudah biasa dimasak. Hadits Aisyah ra., “Sunnahnya dua ekor kambing untuk bani dan mono ekor wedus untuk budak perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh”. (HR al-Bayhaqi)

Uci-uci aqiqah diberikan kepada tetangga dan miskin miskin juga bisa dikasih kepada manusia non-muslim. Malahan jika sesuatu itu dimaksudkan untuk mempesona simpatinya serta dalam bagan dakwah. Dalilnya adalah nasihat Allah, “Mereka memberi makan orang melarat, anak yatim, dan tawanan, dengan perasaan senang”. (QS. Al-Insan: 8). Menurut Ibn Qudâmah, tawanan pada ketika itu ialah orang-orang keparat. Namun demikian, keluarga juga boleh membuang sebagiannya.

Yang berhubungan beserta binatang sembelihan

1. Dalam masalah ‘aqiqah, binatang yang boleh dipergunakan sebagai sembelihan hanyalah kambing, tanpa memperlakukan apakah nyali besar atau betina, sebagaimana hal di kaki gunung ini:

Daripada Ummu Kurz AI-Ka’biyah, sebenarnya ia sudah bertanya mendapatkan Rasulullah SAW tentang ‘aqiqah. Maka sabda beliau SAW, “Ya, untuk anak laki-laki dua ekor wedus dan untuk anak dara satu ekor kambing. Gak menyusahkanmu baik kambing tersebut jantan atau pun betina”. [HR. Ahmad dan Tirmidzi, dan Tirmidzi menshahihkannya, pada Nailul Authar 5: 149]

Dan kita belum meraih dalil yang lain yang menampilkan adanya hewan selain wedus yang dipergunakan sebagai ‘aqiqah.

2. Waktu yang dituntunkan oleh Nabi SAW bertolak pada dalil yang shahih yakni pada hari ke-7 dari kelahiran keturunan tersebut. [Lihat informasi riwayat ‘Aisyah dan Samurah di atas]

Pembagian daging Aqiqah

Mengenai dagingnya oleh karena itu dia (orang tua anak) bisa memakannya, menghadiahkan sebagian dagingnya, serta mensedekahkan sekitar lagi. Syaikh Utsaimin mengatakan: Dan tidak apa-apa dia mensedekahkan darinya dan menjumput kerabat dan tetangga untuk menyantap sasaran daging aqiqah yang sungguh matang. Syaikh Jibrin berkata: Sunnahnya dia memakan sepertiganya, menghadiahkan sepertiganya kepada sahabat-sahabatnya, dan mensedekahkan sepertiga lagi kepada kaum muslimin, dan larat mengundang teman-teman dan macam untuk menyantapnya, atau larat juga dia mensedekahkan seluruhnya. Syaikh Rumpun Bazz berkata: Dan engkau bebas memilih antara mensedekahkan seluruhnya / sebagiannya & memasaknya lalu mengundang orang2 yang kamu lihat sedang diundang atas kalangan moyang, tetangga, teman2 seiman & sebagian orang-orang faqir untuk menyantapnya, & hal sebagai dikatakan sambil Ulama-ulama yang terhimpun di dalam Al lajnah Ad Daimah.

Pemberian Nama Keturunan

Tidak diragukan lagi jika ada siratan antara makna sebuah sebutan dengan yang diberi nama. Hal tersebut ditunjukan beserta adanya sejumlah nash syari yang menyembulkan hal ini.

Dari Duli Hurairoh Ra, Nabi SAW bersabda: “Kemudian Aslam mudah-mudahan Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Allah mengampuninya”. (HR. Bukhori 3323, 3324 dan Muslim 617)

Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Barangsiapa yang menanggapi sunah, ia akan memperoleh bahwa makna-makna yang tersembunyi dalam nama berkaitan dengannya sehingga seakan-akan makna-makna tersebut diambil darinya dan seumpama nama-nama itu diambil atas makna-maknanya”. Dan jika anda ingin mengetahui konsekuensi nama-nama lawan yang diberi nama (Al-musamma) maka perhatikanlah hadits pada bawah tersebut:

Dari Said bin Musayyib dari bapaknya dari kakeknya Ra, ia berkata: Hamba datang menurut Nabi SAW, beliau pun bertanya: “Siapa namamu? ” Aku respons: “Hazin” Nabi berkata: “Namamu Sahl” Hazn berkata: “Aku tidak akan merobah nama rezeki bapakku” Putra Al-Musayyib mengatakan: “Orang itu senantiasa bersikap keras tentang kami setelahnya”. (HR. Bukhori) (At-Thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad Al-’Isawiy hal 65)

Oleh karena itu, penamaan yang baik untuk anak-anak menjadi satu diantara kewajiban pengampu. Di antara nama-nama yang baik yang layak diberikan merupakan nama nabi penghulu zaman yaitu Muhammad. Sebagaimana petuah beliau: Mulai Jabir Ra dari Nabi SAW beliau bersabda: “Namailah dengan namaku dan janganlah engkau menggunakan kunyahku”. (HR. Bukhori 2014 dan Orang islam 2133)

Untuk mengetahui jalan pemberian nama yang baik pendapat ajaran Agama islam, silahkan faksi:

Memberi Identitas Bayi / Anak Berdasar pada Islami


Memotong Rambut

Menyikat rambut adalah anjuran Rasul yang luar biasa baik untuk dilaksanakan tatkala anak yang baru lahir pada hari ketujuh.

Di dalam hadits Samirah disebutkan kalau Rasulullah saw. Bersabda, “Setiap anak terjepit dengan aqiqahnya. Pada hari ketujuh disembelihkan hewan untuknya, diberi sebutan, dan dicukur”. (HR. at-Tirmidzi).

Dalam kitab al-Muwaththâ` Imam Malik meriwayatkan bahwa Fatimah menimbang berat rambut Hasan dan Husein lalu sira menyedekahkan argentum seberat rambut tersebut.

Tiada ketentuan apakah harus digundul atau gak. Tetapi yang jelas pencukuran tersebut mesti dilakukan secara rata; tidak boleh cuma mencukur sekitar kepala & sebagian yang lain dibiarkan. Tentu saja semakin banyak rambut yang dicukur dan ditimbang semakin -insya Allah- tambah besar lagi sedekahnya.

Seruan Menyembelih Fauna Aqiqah

Bismillah, Allahumma taqobbal min muhammadin, wa aali muhammadin, wa min ummati muhammadin.

Artinya: Dengan sebutan Allah, sungguh Allah terimalah (kurban) dari Muhammad & keluarga Muhammad serta mulai ummat Muhammad. ” (HR Ahmad, Orang islam, Abu Dawud)

Doa momongan baru dilahirkan

Innii u’iidzuka bikalimaatillaahit taammati min kulli syaythaanin wa haammatin wamin kulli ‘aynin laammatin

Mempunyai: Aku berlindung untuk budak ini dengan kalimat Yang mahakuasa Yang Siap dari segala gangguan syaitan dan gangguan binatang serta gangguan sorotan mata yang dapat menjinjing akibat jorok bagi segalanya yang dilihatnya. (HR. Bukhari)

Hikmah Aqiqah

Aqiqah Dari segi Syaikh Abdullah nashih Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad Fil Agama islam sebagaimana dilansir di sebuah situs memiliki beberapa panduan diantaranya:

1. Menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW pada meneladani Nabiyyullah Ibrahim PASAK tatkala Sang pencipta SWT menerima putra Ibrahim yang tercinta Ismail USA.

2. Dalam aqiqah ini mengandung unsur perlindungan dari syaitan yang dapat meniadakan anak yang terlahir tersebut, dan ini sesuai beserta makna hadits, yang berarti: “Setiap bujang itu tergadai dengan aqiqahnya. ” [3]. Maka itu Anak yang sudah ditunaikan aqiqahnya insya Sang pencipta lebih terjamin dari gelaran syaithan yang sering mengocok anak-anak. Sesuatu inilah yang dimaksud sebab Al Imam Ibunu Al Qayyim Al Jauziyah “bahwa lepasnya dia dari syaithan tergadai sebab aqiqahnya”.

3. Aqiqah ialah tebusan hutang anak untuk memberikan syafaat bagi ke-2 orang tuanya kelak di dalam hari perkiraan. Sebagaimana Imam Ahmad menyebarkan: “Dia tergadai dari memberikan Syafaat bagi kedua manusia tuanya (dengan aqiqahnya)”.

4. Merupakan wujud taqarrub (pendekatan diri) mendapatkan Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus serupa wujud rasa syukur bagi karunia yang dianugerahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala beserta lahirnya sang anak.

5. Aqiqah serupa sarana membuka rasa ribut dalam mengusahakan syari’at Islam & bertambahnya keturunan mukminat yang bakal memperbanyak umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.

6. Aqiqah menasihati ukhuwah (persaudaraan) diantara suku.

Dan masih banyak lagi hikmah yang terkandung di dalam pelaksanaan Syariat Aqiqah berikut.

Pengertian Aqiqah, Dalil Syari Tentang Aqiqah, Hukum Aqiqah Oleh Serbuk Muhammad ‘Ishom bin Mar’i[Disalin serta diringkas balik dari kitab “Ahkamul Aqiqah” karya Serbuk Muhammad ‘Ishom bin Mar’i, terbitan Maktabah as-Shahabah, Jeddah, Saudi Arabia, dan diterjemahkan oleh Mustofa Mahmud Bentala al-Bustoni, dengan judul “Aqiqah” terbitan Titian Ilahi Press, Yogjakarta, 1997]

Comments


Free website powered by Beep.com
 
The responsible person for the content of this web site is solely
the webmaster of this website, approachable via this form!